Tips Mendidik Anak yang Beranjak Remaja

Tips Mendidik Anak yang Beranjak Remaja

Menghadapi anak yang beranjak remaja, kerapkali menyebabkan orang tua ketar-ketir. Ketakutan akan perubahan fisik, mental dan sikap anak menjadi bagian terbesar dari masalah orang tua kala anaknya memasuki usia remaja. Upaya untuk memelihara agar anak lebih aman dan tidak terjebak dalam lingkungan yang buruk, kadang menyebabkan orang tua menjadi over protektif. Hal ini, justru menjadi bumerang bagi orang tua, mengingat anak usia remaja sedang mengalami masa pubertas bersama dengan keingintahuan yang tinggi.

Menghadapi anak usia remaja sebenarnya memberi tambahan persoalan berbeda dibandingkan jika kita hadapi anak kecil.

Anak usia remaja sebenarnya diidentikkan bersama dengan stigma emosi yang tidak stabil, memberontak, dan tertutup.

Sebagai orangtua kita kerap kebingungan bagaimana hadapi anak usia remaja bersama dengan segala permasalahannya https://www.idnpedia.com/ .

Apabila kita mencoba untuk bersikap lembut, seringnya itu disalah artikan oleh si anak remaja bahwa sang orangtua permisif agar dia semakin memberontak.

Dan jika kita bersikap tegas, maka itu disalah artikan oleh si anak remaja sebagai sikap orangtua yang mengekang.

Baca Juga: Orang Tua Wajib Lakukan Ini Agar Anak Paham Tentang Pentingnya Menjaga Kesehatan Reproduksi Sejak Dini Menurut Kementerian PPPA dan Ahli

Lalu bagaimana hadapi dan mendidik anak remaja? Di sinilah orangtua mesti menyadari perihal Pre Frontal Cortex dan aspek pubertas yang pengaruhi tingkah lakunya.

Menurut dr. Linda Nora M.A (Counseling) CFC, hal paling mendasar yang lebih-lebih dulu mesti dijalankan orangtua adalah mendidiknya cocok bersama dengan passion-nya dan personality-nya

“Passion akan menyebabkan anak remaja berkembang lakukan kebaikan yang berguna bagi dirinya dan sesama.”

Demikian disampaikan dr. Linda dalam Seminar Konseling bertema “Help! I Have Teenagers” yang diselenggarakan oleh Bunga Merpati, Yayasan Counseling Personal Development Center pada Sabtu 30 Oktober 2021.

Apa Itu Pre Frontal Cortex pendidikan pergaulan sehat yang diberikan remaja dapat dilakukan dengan cara

Stigma yang tersedia tersedia remaja itu adalah spesial yang moody, meletup-letup.

Dan stigma itu sebenarnya terpengaruh oleh Pre Frontal Cortex (PFC).

Dalam kepala remaja terdapat Pre Frontal Cortex (PFC) yang berkembangnya sangat perlahan dan berlangsung di step belakangan. PFC ini adalah faedah eksekutif otak untuk berencana hidup. Misalnya, untuk menyebabkan keputusan.

Jadi terkecuali dia udah menyebabkan keputusan, lalu tidak diperbolehkan orangtua, maka dia akan memberontak sebab dia merasa otoritasnya direnggut.

Baca Juga: Minder Karena Sering Disebut Gemuk dan Jerawatan? Begini Cara Bijak Mengatasi Remaja yang Kurang Percaya Diri bersama dengan Penampilannya

PFC ini menyebabkan remaja membawa otoritas dan selagi PFC remaja semakin besar, maka otoritasnya semakin besar. Dan otoritas orangtua semakin kecil.

Kalau keinginan anak remaja dilarang orangtua, maka dia akan merasa tidak sanggup membawa otoritas.

Dan juga PFC menyebabkan remaja belajar dari kesalahan. Sehingga terkecuali anak remaja lakukan kesalahan lalu dituding dan disalahkan tanpa diskusi, anak remaja akan merasa kesal.

PFC akan matang pada usia pertengahan 20-an dan kadang pada usia 21. Menuju kematangan itu akan menyebabkan remaja mengalami mood swing.

Pubertas

Perkembangan hormon seksual juga berpengaruh besar pada anak remaja.

Misalnya, tak hanya dalam hal seksual, hormon testoteron pada remaja pria membuatnya berwujud defensif. Dan itu akan terbawa hingga dia dewasa nanti.

Periode usia 10-20 adalah sebuah periode di mana kematangan fisik berlangsung cepat yang melibatkan perubahan hormonal dan tubuh.

Perubahan Akibat PFC dan Hormon Seksual

Perubahan pada PFC dan hormon seksual akan menyebabkan perubahan dalam 4 hal pada remaja:

1. Fisik

Dalam masa remaja berlangsung perubahan pada ukuran badan, kulit, perkembangan rambut, aroma tubuh, jam tidur dan pendengaran. Anak laki-laki tidak senang omongan yang berulang-ulang.

Baca Juga: Alasan Victim Blaming Bahaya bagi Psikologis Korban Pelecehan Seksual

2. Emosional

Remaja ringan sekali mengalami mood swing. Satu selagi dia merasa kesal, namun sebentar lantas sanggup saja sangat gembira.

3. Kognitif

Minat anak remaja berubah-ubah, agar remaja cepat sekali merasa bosan. “Di sekolah terkecuali pembelajaran tidak menarik, dia tidak berpura-pura. Bisa begitu saja menguap di kelas,” kata dr. Linda.

4. Sosial dan Spiritual

Anak remaja sangat senang berteman, lebih-lebih pada masa early dan middle teenager.

Selain itu, anak perempuan akan miliki obsesi untuk tampil menarik. “Remaja perempuan sanggup senang ikut ibunya ke salon.”

Dan dalam kehidupan sosial mereka menjadi sangat kritis, bertualang dan apalagi menyukai konflik. Kadang mereka sanggup saja menantang orangtua jika tersedia yang dirasa tidak sesuai.

Mencari Identitas dan Pertemanan

Tahap psikologi pada remaja yang lebih-lebih adalah identity searching dan identitas itu didapat dari rekan (peers).

Mengapa remaja senang berkumpul bersama dengan teman? Sebab, dia merasa dia berada pada level berpikir yang setara dan level kebolehan yang juga setara.

Dalam lingkungan pertemanan anak remaja juga akan merasa ringan diterima, lebih-lebih pada remaja perempuan.

Leave a Comment